"WELCOME TO OFFICIAL BANG DENS BLOGSPOT"
"KEEP SPIRITS"
TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA
JANGAN LUPA KEMBALI LAGI

BANG DENS

MOMEN ROMANTIS NESSIE


Cerpen BANG DENS

Beberapa hari belakangan ini, cuaca sukar diprediksi. Hujan, tiba-tiba, sering turun dengan lebatnya, bahkan disertai angin kencang dan petir bersahutan. Pulang sekolah, aku harus dua kali naik kendaraan umum. Kalau Mas Dodi mengabarkan akan menjemputku hari ini, aku tentu senang sekali. Kalau tidak, aku terpaksa pulang sendiri, berebut mengejar angkot hingga malam tiba.

Dan hari ini, aku benar-benar tidak mungkin mengharapkan Mas Dodi segera hadir menjemputku dengan mobilnya. Barusan dia sms “KEJEBAK MACET JEMPUT MAMA DI TANAH ABANG”. Harapanku kini, hujan yang tiba-tiba turun segera berhenti. Paling tidak, setelah aku sampai di depan rumahku nanti hujan sudah reda.

Saat mikrolet yang kutumpangi berhenti di seberang jalan depan rumahku, senja yang gelap sudah berganti malam dan hujan belum berhenti juga. Aku terpaksa berlari dan berteduh di halte untuk sementara. Beberapa pengendara sepeda motor sudah banyak memenuhi halte. Jaket dan pakaian mereka sudah basah kuyup. Seorang bapal tua sedang melindungi isi gerobak barang-barang rongsongkannya dengan plastik. Ada juga bocah lelaki yang termenung karenasebagian koran jualannya basah dan belum terjual. Beberapa ibu dan anak-anak sekolah asyik makan gorengan sambil ngerumpo tertawa cekikikan.

Puas menatap orang-orang disekelilingku, di tengah terpaan cahaya lampu-lampu kendaraan yang lewat, sesosok  gadis kecil tampak menyeberang jalan menuju halte tempatku berteduh. Di tangannya, ada sebuah payung yang tidak terlalu besar.

Baju gadis kecil itu sudah basah kuyup ketika dia tiba di halte. Wajah imutnya mirip salah satu bintang sinetron cilik yang pernah kulihat di salah satu stasiun televisi. Beberapa orang anak sekolah dan ibu-ibu segera menyerbu gadis kecil itu. Tapi ketika gadis kecil itu melihat ke arahku, dia cepat menghampiriku, sepertinya dia sudah mengenalku sebelumnya.

Dia hanya menawarkan payungnya untukku.
“Ayo, Kak ikut payungku!” gadis kecil dengan lesung pipinya yang manis berkata padaku dengan polosnya.
“Apa kau mengenalku adik manis?” tanyaku sambil jongkok menyamai tinggi gadis kecil itu.
“Aku kenal. Kakak adalah teman kakaku. Nama kakak Nessie kan?” adik kecil itu balik bertanya padaku.
“Iya. Bagaimana kau bisa tahu, Dik?” tanyaku keheranan.
“Aku adiknya Kak Dheni. Teman kakak sewaktu SMP.” Jelasnya sambil menyungginggkan senyum yang membuat aku gemas.
“Dheni? Apakah dia yang menyuruhmu?”
“Tidak, Kak. Aku tadi baru pulang dari sekolah lalu melihat kakak. Ayo, Kak kuberi tumpangan dengan payung ini.” Tawar gadis kecil itu padaku.
“Manis sekali kau. Ayo kugendong! Akan kuantar kau pulang adik manis.” Kataku yang lalu mengambil payung berukuran sedang gadis kecil itu dan menggendongnya. Tak kuhiraukan bajuku yang sebagian basah karena harus menggendong gadis kecil yang basah kuyup ini.

Kuantarkan Shita kerumahnya dengan membawa payung berukuran sedangnya. Aku memutuskan untuk mengantar Shita ke rumahnya. Ada rasa khawatir diriku jika harus melihat gadis kecil ini berjalan sendiri ke rumahnya. Di perjalanan, belakangan kuketahui bahwa nama gadis kecil ini adalah Shita. Adik teman semasa SMPku dulu. Shita baru saja pulang dari rumah temannya untuk bermain. Lalu tiba-tiba turun hujan deras. Shita terpaksa harus menunggu sampai hujan reda. Namun, hujan tak kunjung reda. Ia takut ibunya akan khawatir. Shita membulatkan tekat untuk menerobos hujan menggunakan payung. Sialnya, tubuh kecil Shita tidak kuat menahan terpaan angin kencang yang membuat payungnya lepas dari genggaman tangan Shita. Walhasil ia jadi basah kuyup seperti sekarang ini.

Ketika sudah sampai di depan rumah, kuketuk pintu depan rumahnya.
“Assalamualaikum. . Assalamualaikum.” Kataku sambil mengertuk pintu rumah yang minimalis itu.

Sayup-sayup, aku mendengar suara pemuda menjawab salamku. Seorang pemuda yang sebaya denganku membuka pintu itu. Ia terpana kaget ketika melihat diriku menggendong Shita. Namun tatapan kaget itu sekejap hilang oleh senyum ramah dan hangatnya.
“Nessie? Kok bisa sama Shita?” tanya Dheni penasaran.
“Tadi aku ketemu adikmu di halte. Entah kenapa dia mengenaliku dan menawariku tumpangan payung. Shita bilang dia adikmu. Jadi kuantar dia kesini.” Jelasku panjang lebar.
“Iyadong Shita kenal kakak. Secara Kak Dhen. . . . .”
“Shita, sebaiknya kamu ganti baju dulu!” potong Dheni cepat-cepat.
“Siapa Dhen? Adikmu?” tiba-tiba suara lembut perempuan memecah rasa penasaranku.
“Iya, Bu. Bersama dengan Nessie.” Jawab Dheni.

Ibu Dheni, dengan senyum ramahnya mempersilakan aku masuk ke rumah sederhana yang hangat. Dengan senang hati aku masuk ke ruang tamu. Ini lebih baik daripada harus menunggu hujan lebat di luar untuk berhenti.
Ruang tamu ini, meskipun lebih kecil daripada ruang tamu yang ada dirumahku, tetapi terasa hangat, bersih dan nyaman. Aku merasa seperti sedang berada di rumah sendiri.

Ibu Dheni masuk kedalam dan meninggalkan aku dan Dheni di ruang tamu. Mungkin beliau ingin membantu Shita mengganti pakaiannya.
“Kamu jadi ikut basah ya?” pertanyaan Dheni memecah kesunyian yang ada diantara kami.
“Ah cuma sedikit kok. Gak apa-apa. Eh, ngomong-ngomong, kok adikmu bisa mengenaliku? Aku sendiri saja jarang melihat dia.” Tanyaku penasaran.
“Ah itu. . . biasa anak kecil suka bertanya-tanya. Dia tahu kamu  waktu dia melihat foto-foto album kenangan ketika SMP dulu”
“Oh. . .” jawabku santai.

Tak berapa lama, ibu Dheni masuk ke ruang tamu lagi membawa tiga cangkir teh dan setoples biskuit. Mungkin Ibu Dheni tahu kalau aku sedang merasa kedinginan saat ini. Tepat waktu sekali. Batinku dalam hati. Ibu Dheni lalu mempersilahkanku unyk minum. Dengan senang hati aku mengambil cangkir itu lalu menyeruput isinya seteguk yang lalu masuk lewat mulutku dan ke kerongkonganku. Ah. . . .segarnya.

Aku merasa sudah terlalu lama transit di rumah Dheni. Sudah semakin malam. Aku lalu memutuskan untuk meminjam payung di rumah Dheni.

Ibunya memaksa Dheni untuk mengantarku pulang. Padahal jarak antara rumah kami kira-kira hanya 300 m.
“Sudah malam, Ness. Biarkan Dheni mengantarmu pulang.” Paksa ibu Dheni.

Akhirnya, aku dan Dheni keluar rumah. Masing-masing membawa satu payung. Ketika aku sudah sampai  diseberang rumah, aku cepat-cepat lari menyeberang dan tidak memperhatikan kanan-kiri jalan. Tiba-tiba ada cahaya lampu. Aku menengok untuk melihat cahaya lampu itu, ternyata itu adalah cahaya lampu mobil yang jaraknya sudah sangat dekat denganku. Aku sudah berfikir bahwa aku akan dihantam oleh mobil itu, ketika aku memejamkan mata, cengkraman tangan yang kuat menarikku. Aku berbalik dan terhuyung. Dheni menarikku menjauhi mobil dan ia akhirnya membelakangi sisi kanan mobil dan berdiri dihadapanku. Ternyata di jalan itu ada kubangan air. Mobil melewati kubangan air itu dan menyipratkan airnya ke bagian belakag tubuh Dheni.
“Ness, kau tidak apa-apa?” tanya Dheni sambil melihat wajahku yang melongo.
“Aku? Aku sih tidak apa-apa. Tapi kamu jadi basah kuyup.” Kataku hampir histeris.
“Ah ini. . .tidak apa-apa.”

Kami lalu berjalan kedepan gerbang rumahku,
“Terimakasih telah menolongku, Dhen. Mau mampir dulu? Aku rasa kakakku punya baju ganti untukmu.” Tawarku.
“Sama-sama. Lain kali saja aku mampir. Ini sudah malam. Aku bisa ganti baju dirumah nanti. Aku pulang dulu ya!”
“Yasudah. Hati-hati. Terimakasih sekali atas pertolonganmu.” Kataku sambil tersenyum.

Dheni hanya tersenyum membalasku sambil mengangguk lalu berbalik arah untuk kembali menuju rumahnya. Aku berjalan memasuki halaman rumah melewati gerbang sambil senyam-senyum sendiri mengingat kejadian yang baru saja kualami. Seandainya aku tadi tidak ceroboh mungkin kejadian tadi tidak akan terjadi. Lain kali, aku tidak boleh ceroboh. Kataku dalam hati sambil senyam-senyum mengingat kejadian romantis tadi.

Selesai...

ANTARA SAHABAT DAN CINTA PERTAMA



Cerpen BANG DENS

"Apa kau yakin ingin meninggalkan London ?"tanya gadis cantik itu, rambut lurusnya diikat dua, mata hijaunya berbinar-binar, kulit putihnya sedikit terlihat kemerah-merahan.
"Aku yakin, aku akan pergi ke Jepang, tempat asalku dilahirkan"jawab gadis Jepang itu yakin, gadis itu berambut panjang gelombong coklat muda diikat satu, mata birunya sedikit berbinar.
"Baiklah Megumi, aku harap lain kali kau akan mampir ke London"kata gadis itu sedikit sedih.
"Ya Emily, aku pasti akan mampir kembali dan menghampirimu !"kata Megumi meyakinkan.
"Selamat tinggal Megumi"kata Emily sambil melambaikan tangannya, Megumi pun menaiki pesawat yang akan membawanya ke negeri Sakura.Selama diperjalanan Megumi hanya meneteskan air mata, mengingat sahabat terbaiknya selalu menunggu kehadirannya.
"Emily, aku janji akan kembali"kata Megumi dalam hati sambil meneteskan air mata.

Sesampai di Jepang, Megumi pun mencari kedua orang tuanya, gadis berumur 16 tahun itu mencari kedua orang tuanya, Megumi pun menemukan mereka, kedua orang tuanya sekarang sudah terlihat tua, setelah selama 4 tahun tidak bertemu orang tuanya, Megumi bersekolah di London bersama Tante dan Omnya.Megumi pun memeluk orang tuanya.
"Mama, Papa.Megumi rindu pada kalian"kata Megumi meneteskan air mata rindu.
"Kami juga merindukanmu nak"kata Mama yang juga menitikkan air mata haru.Megumi pun pulang ke rumah yang selalu ia rindukan.Di rumah sudah ada Nana, adik tersayangnya yang masih berusia 10 tahun, Megumi pun memeluk adik tersayangnya.
"Shimai, Nana rindu sekali sama Shimai"kata Nana senang melihat kakaknya sudah pulang.
"Shimai juga rindu padamu Nana"kata Megumi.Megumi pun menuju kamar tidurnya, tidak ada perubahan dengan kamarnya saat berusia 12 tahun.Dinding berwarna kuning itu masih dihiasi beberapa lukisan karya Megumi, dan sebuah jam dinding hijau kesayangan Megumi, bed cover hijau polkadot putih itu masih dihiasi sebuah boneka beruang kesayangan Megumi saat kecil, lemari kayu, meja rias putih, dan sebuah meja berukuran sdang masih terletak rapi di kamar itu, Megumi pun merebahkan diri di bed cover itu sambil memeluk boneka beruangnya, tiba-tiba handphonenya berdering, tertera sebuah pesan telah berada di kontak handphone tersebut, Megumi pun membaca pesan itu,
"  Megumi bagaimana perjalananmu ? Apakah berjalan lancar ? Aku harap begitu.Adikku, Eiji menangis terus karena tau kau pergi jauh dari London.Aku masih menunggumu sahabatku..."
Megumi pun membalas pesan itu,
"  Perjalananku berjalan lancar, oh iya titipkan salamku untuk keluargamu terutama Eiji.Aku rindu pada adik kecilmu itu, aku rindu tawa Eiji.Aku pasti akan kembali ke London, tunggu aku ya"
Megumi pun mengirim pesan itu.Megumi pun mulai menutup matanya.
Sinar mentari membangunkan gadis cantik yang sedang terlelap lelah setelah menempuh perjalanan jauh, Megumi pun bergegas membersihkan diri, tidak begitu lama Megumi pun selsai berbersih diri, ia pun duduk di meja riasnya, Megumi mengoleskan bedak, dan blush di wajah putihnya, sedikit lipsgloss teroles rapi di bibirnya.Rambut gelombangnya digulung dua.Selesai berdandan, Megumi pun menuruni tangga dan menuju ruang makan, di meja makan tersebut sudah tersedia semangkuk mie khas Jepang, dan teh hijau khusus untuk Megumi.Megumi pun menyantap sarapan tersebut,
"Shimai kapan mulai sekolah kembali ?"tanya Nana dengan suara imutnya.Megumi pun menelan mienya,
"Mungkin menunggu sampai sekolah Shimai membuka peserta didik baru"jawab Megumi.
"Hm..Mama..Mama, Shimai akan bersekolah dimana ?"tanya Nana lugu kepada Mama.
"Megumi akan bersekolah di High School Saiensu"jawab Mama kepada putri keduanya.Megumi pun selesai memakan sarapannya, ia pun menuju kamarnya,
"Hm..Mungkin aku harus berjalan-jalan keluar rumah untuk menghirp udara segar"kata Megumi, lalu mengambil jaket putihnya, lalu turun menuju pintu.
"Megumi, kau mau kemana ?"tanya Mama.
"Aku mau menghirup udara segar Ma"jawab Megumi sambil membuka gagang pintu.
"Hati-hati ya nak !"kata Mama.Megumi pun mulai berjalan-jalan, ia pun duduk di bangku Taman
Bunga Sakura.Tiba-tiba ada seseorang yang tak sengaja menumpakkan air mineralnya dijaket
 Megumi.
"Ah..Maaf"kata seorang laki-laki kepada Megumi, laki-laki itu tampan, rambutnya berwarna coklat muda, mata hitamnya terlihat ada penyesalan.
"Tak apa"jawab Megumi, pipi Megumi bersemu merah, sepertinya ia menemukan cinta pertamanya.
"Siapa namamu ?"tanya laki-laki itu.
"Namaku Megumi Natsuko, kamu dapat memanggilku Megumi"jawab Megumi, pipinya masih
bersemu meah.
"Namaku Katashi Masuo, kamu dapat memanggilku Katashi"kata Katashi ramah.
"Kamu masih bersekolah ? Lalu sekolahmu dimana ?"tanya Megumi memberanikan diri.
"Aku masih sekolah di High School Saiensu"jawab Katashi.
"Aku juga akan masuk HSS loh"kata Megumi.
"Yang benar ? Kau akan jadi murid baru ya di kelas 10, berarti kau harus memanggilku Ani dong
hahahaha"canda  Katashi.
"Enak saja, aku akan masuk kelas 11"jawab Megumi.
"Semoga kau sekelas denganku, eh sudah dulu ya.Aku ada janji dengan sahabatku, sampai bertemu di HSS"kata Katashi sambil melangkah pergi.Megumi juga bergegas pulang, sesampai di rumah, Nana menyambut Shimainya.Megumi pun menuju kamarnya,
"Aku tak sabar menunggu saat aku masuk HSS"kata Megumi dalam hati, Megumi tidur lelap di
bed covernya...
Selesai....

AKU CINTA SAHABATKU

 Angin sore menerpa wajahku yang sedang asyik-asyiknya melamunkan hal yang ga tau kenapa bisa aku lamunin. Hal ini tuh udah bikin aku galau belakangan ini. Ya, apa lagi kalau bukan jatuh cinta. Jatuh cinta udah ngebuat aku kaya orang bego. 

Tiap kali aku makan, wajah dia tuh selalu muncul, ngebayang-bayangin tiap langkah aku ke sekolah, dia tuh bagaikan bintang untukku, slalu nemenin tokoh 'aku' dalam mimpi aku. Sebenernya sih dia tuh temen chattingan facebook aku, dia tuh slalu ada kalau aku lagi sedih, ada masalah, juga kalau aku seneng, dia slalu ada buat jadi tempat berbagi kesenangan.  

"Braakkkk!" suara itu kedengaran amat menyeramkan, dan setelah kusadari, ternyata aku terjatuh dari ayunan yang sedang kunaiki. Ya ampun, aku ngelamunin dia lagi... Apa yang terjadi sama aku? Masa aku baru aja ngelakuin hal bego kaya gitu? Hal yang mungkin ngebuat orang lain ngakak di atas penderitaanku. 

"Awww.... Sakit banget kaki aku..." sebenarnya aku tau di taman ini ga ada orang lain selain aku, tapi kok aku ngerasa ada suara ketawa yang kejam? Hiiyyy, jangan-jangan....... 

"Huaaaa", aku berteriak kencang saking kagetnya. Baru kali ini aku denger suara hantu, ternyata suaranya tuh kaya manusia banget yah.  

"Ya ampunnn, ini Kayla? Ahaha, aku ngga nyangka banget bisa ketemu kamu di sini, Kay", kata suara itu. Haaaaa..... Salah apa aku bisa ketemu hantu di sore hari yang indah ini, ternyata hantu itu serba tau yaaa, masa dia juga tau nama aku, terus ya iya dia seneng bisa ketemu manusia bernama Kayla ini di taman terus nakut-nakutin dia, sementara aku...? 

'Tuhan tolongin aku Tuhan, bawa aku ke tempat yang aman, ke atas pohon boleh deh, asal aku ga usah ngeliat ni hantu gitu, ngga usah tatap muka sama diaaa.... Aku takut hantu....', doaku dalam hati. Tapi kayanya itu cuma jadi mimpi soalnya aku masih di bawah pohon, di deket ayunan kuning ini.... Suara langkah kaki itu semakin deket lagi... 

"aaaaaaa, jangan bunuh aku, mas hantu, aku masih belom punya pacar, masih banyak dosa sama mama sama papa... Pleaseee dong mas hantu, biarin aku hiduppp", teriakku sejadi-jadinya.  "Hahahahaha Kaylaa-Kaylaa... Kamu tuh yaa ngga di dunia asli, ngga di chat, sama aja: PENAKUT! Hahaha, ini aku, Mike..." kata suara itu... 'Mike siapa' kataku dalam hati.... 'Mike??? Hah, cowo itu? yang sedari tadi aku pikirin? Cowo yang ngebuat aku jatuh memalukan dari ayunan? hahaha, ngga mungkin ah', kataku sembari membalikkan tubuhku ke arah suara itu berasal. Hwaaa, wajah itu membuat hatiku bergetar hebat. 

Ternyata itu beneran Mike ya Tuhan!  Seketika lidahku tak bisa berkata-kata, 'kenapa lidahku kelu tiap kau panggil aku', gitu kalo kata sm*sh! aduh apa apan aku ini, di saat seperti ini aku masih bisa mikirin boyband asal Bandung favoritku itu... kembali lagi dong ke dunia nyata. "Hah, kamu beneran Mike?" kataku, memandang wajah dia yang berdiri di sebelahku sambil mengulurkan tangan, membantuku berdiri. 

"Ya iyalah emang kamu mikir aku ini hantu yang tau nama kamu? Hahaha", kata Mike seolah dapat membaca pikiranku. "Hehehe, ya kirain sih", kataku, menyambut uluan tangannya.  Baru kali ini aku melihat wajah aslinya, ternyata lebih cakep dari fotonya, ngebuat hati aku cenat cenut. 

Kami mengobrol banyak di taman sambil menikmati matahari yang dengan malu-malu ke tempat asalnya. Senja itu, aku benar-benar ngerasain apa yang namanya indahnya jatuh cinta. Setelah mengobrol begitu lamanya, kami berpamitan, oiyah sekarang aku tau, dia pindah ke blok sebelah rumah aku. Aku jadi tetanggaan sama dia, senangnya :D. Kami lalu pergi ke rumah Mike untuk Mike kenalkan sama keluarganya yang sering dia ceritakan di chat ym ke aku.    

Mike pindah dari Jakarta ke Bandung, katanya sih papanya tugas kerja di Bandung. Dia tinggal sama keluarganya, yang barusan dia kenalin ke aku, Oom Anwar, Tante Rosa, dan adik perempuannya yang cantik, Mary. Mike sekolah di sekolah yang beda sama aku. Hari-hari berikutnya kujalani dengan senyuman yang menghiasi wajaku, menganggap bahwa semua hal buruk di dunia ini takkan berarti apa-apa bagiku, asal aku bisa liat wajah dia, wajah Mike setiap hari... 

Sekarang Mike sudah menjadi sahabatku yang selalu ada di sampingku tiap aku ada masalah, dia selalu ngehibur aku.Semuanya jadi indah, sampai pada suatu hari, dia cerita ke aku tentang seorang cewe yang udah ngebuat hati aku sedih. Mike suka sama cewe itu, dan akhirnya setelah 3 bulan PDKT atau pendekatan, mereka jadian.  

Aku ngga kuat kalo harus terus begini, aku harus ngomong sama Mike tentang perasaanku sebenarnya, sebelum aku dibuat gila sama perasaan cinta sama sahabat sendiri. Bahkan, sebelum kami sahabatan, cuma sebagai temen di dunia lain selain dunia nyata, yaitu dunia maya, yang ga pernah tatap muka sebelumnya, aku udah suka sama dia... Ya, kalo perasaan ini terus-menerus dipupuk kaya gini, apalagi dengan sikap baik bangetnya itu, sikap perhatian itu, aku ngga mungkin ngga cinta sama dia... Rasa cinta ini terus menerus tumbuh, semakin besar dan semakin besar. Kalau aku ngga ngomong, bukannya aku seneng, tapi malah tersiksa sama perasaan ini.  Sampai pada suatu sore yang cerah, saat kami sedang ngobrol di taman kompleks sambil menatap awan yang terus menerus bergerak, aku menceritakan semua tentang isi hatiku, apa yang aku rasakan sama dia, dari kapan perasaan itu muncul, dan berbagai macam kalimat lain yang gatau kenapa langsung meluncur dari lidahku. Aku juga heran kenapa dia ngga kaget sama apa yang aku katakan. 

Dia tetap tersenyum manis sambil mendengarkan aku bicara tentang perasaan terlarang ini. Setelah selesai semua beban di hatiku ini. "Mike, kok kamu malah senyum-senyum sih? Emang sih ceritaku tuh novel banget, tapi harus kamu tau, ini tuh kejadian sebenernya!", kataku. 

"Ngga kok, Kay, aku seneng kamu mau jujur sama aku, aku seneng kamu mau jadi the one yang mau tulus cinta sama aku... Ehm, sebenernya aku malu banget ngomong ini sebenernya. Aku juga suka sama kamu, Kay. Dari kita ketemu di chat ym, aku juga udah suka sama kamu, aku berusaha supaya jadi yang terbaik buat kamu. Tapi aku udah putus harapan, soalnya kamu tuh ngga ngasih respon ke aku", jelas Mike. 

"Hah? Kalau kamu juga suka sama aku, kenapa kamu jadian sama Lila? Kenapa kamu malah ngebuat hati aku tambah sakit, Mike setelah aku tau kejadian yang sebenarnya."  

"Sebenernya, Lila yang aku ceritain ke kamu itu, dia adik aku, aku cuma mau tau, apa kamu cemburu sama Lila atau ngga. Ternyata kamu cemburu yah, hehehe", canda Mike, tapi aku kira ini janggal dan ngga lucu! "Mike, bukannya adik kamu namanya Mary? Kok kamu ganti jadi Lila sih?", tanyaku penasaran.
"Yah, namanya kan Delila Mary Wijaya, nama belakangnya sama kaya aku: Michael Stefan Wijaya. Hehehe, maaf banget kalau aku udah bohongin kamu, Kayla." 

Mike membuat aku yang tadinya kesal bercampur senang merasa sedikit tenang.  

"Jadi?" kata Mike. "Jadi, apa aku boleh jadi cowo yang bisa ngelindungin kamu, Kay?", sederhana, tapi udah buat aku melambung tinggi, bagai terbang di atas awan. 

"Aku mau, Mike jadi cewe yang bisa ngertiin kamu", jawabku sambil tersenyum. Kami baru saja jadian dan aku sangat senang akan hal itu. Menikmati senja di dekat ayunan tempatku pertama bertemu dengan Mike, dengan suasana yang sama: langit senja berwarna merah keunguan membuat hatiku tentram. Ternyata, sahabat juga bisa jadi cinta.

Sekesai...

IBUKU BUKAN PELACUR

Setiap malam aku dan adik ku selalu tidur di kursi ruang tamu untuk membukakan pintu ketika ibu pulang bekerja. Entah pekerjaan apa yang dikerjakan oleh ibu ku. Setiap jam 9 malam ibu baru berangkat kerja dan pulang sekitar jam 1 dini hari. Banyak orang yang berprasangka negatif terhadap pekerjaan ibu, tapi ibu tak mengindahkan perkataan mereka. Ibu hanya tersenyum ketika orang-orang menyebut ibu sebagai pekerja seks komersial. Aku yakin ibu ku tidak bekerja sebagai PSK, mana mungkin ibu tega memberi makan kami dengan uang yang haram. Ibu berasal dari keluarga yang tahu aturan agama jadi sangat tidak mungkin ibu bekerja sebagai PSK.
Adik ku Gian selalu menanyakan kenapa ibu kerjanya malam hari, tidak seperti kebanyakan orang yang bekerja diwaktu pagi dan siang hari. Aku sendiri tidak pernah tahu mengapa ibu mau bekerja ditempat yang jam kerjanya malam hari. Mungkin hanya ditempat itulah ibu bisa diterima kerja. Aku selalu berpikr positif terhadap ibu. Aku tidak mau terpengaruh oleh ucapa-ucapan orang diluar sana yang menganggap ibu bukan wanita baik-baik.
Tak seperti biasanya malam ini ibu pulang cepat. Ibu membawakan kami makanan untuk sarapan besok pagi sebelum berangkat ke sekolah. Karena ibu pulangnya selalu lewat tengah malam ibu tidak pernah sempat untuk membuatkan sarapan pagi untuk aku dan adik ku. Setiap pagi aku selalu menyiapkan sarapan pagi dan membangunkan Gian.
“Gian, bangun dong udah pagi nih cepat mandi !!”
“Bentar Kak Gian masih ngantuk nih.”
“Entar kamu kesiangan cepat sana !!”
“Iya-iya Gian mandi sekarang.”
“Cepat ya, soalnya kakak buru-buru nih.”
Aku dan Gian bersekolah di sekolah yang sama. Aku kelas 3 SMA dan Gian kelas 1 SMA. Gian termasuk murid yang cukup berprestasi dikelasnya sehingga dia mendapatkan beasiswa sampai dia lulus SMA nanti. Walaupun aku dan Gian jarang sekali ngobrol sama ibu, tapi ibu sangat perhatian sekali pada kami. Ibu tak pernah membiarkan kami merasa kekurangan kasih sayang dan perhatian dari seorang ibu. Ibu selalu berusaha untuk selalu ada ketika kami membutuhkan teman untuk berbagi.
“Ajeng, maaf ya mungkin sekarang ibu kurang ada waktu untuk selalu bersama kalian. Kamu tahukan ibu harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup kita.”
“Ga apa-apa ko bu, walaupun ibu jarang ada untuk kita kasih sayang yang ibu berikan sama aku dan Gian tak sedikitpun kurang.”
“Makasih ya nak, kamu harus bisa menjaga adik kamu, kamu harus bisa menjadi kakak yang baik untuk adik kamu.”
“Pasti bu, ibu ga usah khawatir Ajeng akan selalu menjaga Gian dan menjadi kakak yang baik untuk Gian.”
Ibu memang jarang sekali punya waktu untuk kami. Tapi itu semua tak menjadi masalah, karena aku tahu sebenarnya ibu ingin sekali mengetahui lebih banyak lagi tentang perkembangan anak-anaknya. Tapi apa boleh buat keadaan yang tidak memungkinkan ibu untuk selalu ada bersama kami, karena setelah ayah meninggal ibulah yang menjadi tulang punggung keluarga kami. Ibulah yang bekerja untuk memenuhi semua kebutuhan hidup kami.
Aku sebagai seorang kakak harus bisa bersikap lebih dewasa lagi. Terkadang aku merasa kesal terhadap orang-orang yang menuduh ibu sebagai PSK. Tapi ibu selalu mengingatkan ku untuk tidak termakan oleh omongan mereka, ibu selalu mengingatkan ku untuk selalu sabar menghadapi mereka. Mungkin ibu bisa sabar menghadapi perkataan-perkataan mereka, ibu selalu berkata bahwa Tuhan itu tak pernah tidur dan Tuhan tahu apa yang sebenarnya kita lakukan. Kata itu yang selalu ibu ucapkan pada aku dan Gian.
Aku selalu berusaha untuk selalu ada untuk Gian, apalagi disaat dia sedang mempunyai masalah dan membutuhkan teman untuk berbicara. Apapun akan aku lakukan untuk kebahagian adik ku. Dialah yang bisa menjadi penyemangat setiap kali aku menghadapi berbagai masalah. Gian tak pernah bisa diam ketika orang-orang menghina aku dan ibu. Walaupun sedikit pendiam Gian termasuk anak yang ramah dan menyenangkan.
Semakin hari semakin banyak orang yang menuduh ibu bekerja sebagai PSK, tidak hanya orang-orang yang ada dilingkungan rumah saja tapi teman-teman disekolah pun banyak yang menghina aku dan Gian sebagai anak seorang PSK. Apalagi Fira, dia sangat tidak suka dengan aku, hampir tiap hari dia selalu mencari masalah dengan ku. Tapi aku tak pernah menggubris omongannya walaupun omongannya sangat menyakitkan dan membuat aku marah.
“Heh anak pelacur, loe ga malu apa sekolah disini ? loe itu membuat nama baik sekolah kita jadi tercemar.”
“Aduh Fira… terserah kamu ya mau ngomong apa juga. Kamu jangan sembarangan nuduh orang kaya gitu dong.”
“Hah nuduh ? semua teman-teman disini juga udah pada tahu kali kalau loe itu anak seorang pelacur…”
“Eh Fir, udah deh loe ga usah ngehina kakak dan ibu gue !! kaya loe udah jadi orang bener aja.”
“Wow… adiknya membela kakaknya nih. Eh Gian, itu faktanya kali kalau ibu loe itu P-E-L-A-C-U-R iya kan ?”
“Mulut loe itu harus gue tutup pake sampah kali ya, biar bisa diam.”
“Gian udah ya, ga usah kamu ladenin dia. Fira itu emang orangnya kaya gitu.”
“Orang seperti itu harus dikasih pelajaran kak biar bisa dijaga mulutnya.”
“Udahlah mending kita pergi saja.”
“Sana pergi loe… dasar adik sama kakak sama saja bikin malu sekolah aja.”
Gian memang tak pernah bisa diam saat banyak orang menghina ibu. Tapi aku terus selalu berusaha untuk menghalangi Gian untuk tidak emosi menghadapi mereka. Satu sekolah ribut membicarakan tentang ibu ku yang dituduh sebagai pelacur. Kabar ini sudah sampai ke pihak sekolah sampai-sampai aku dan Gian dipanggil oleh kepala sekolah.
“Permisi bu, ibu memanggil saya dan adik saya ?”
“Iya silahkan kalian duduk”
“Maaf ada apa ya bu, ibu memanggil saya dan Gian ?”
“Begini, kalian sudah tahukan kabar yang sedang beredar disekolah ini ?”
“Iya bu, saya tahu akibat kabar ini nama baik sekolah jadi tercemarkan ?”
“Bu, ibu nuduh juga kalau ibu kami ini seorang pelacur ?”
“Gian… kamu ga bicara seperti itu.”
“Tapi kak…”
“Sudah kamu diam..”
“Apa benar ibu kalian bekerja disebuah club malam ?”
“Maaf bu, sebenarnya kami tidak pernah tahu ibu bekerja dimana, ibu hanya selalu bilang bahwa pekerjaannya itu halal.”
Aku dan Gian sangat kaget ketika tahu bahwa ibu bekerja di sebuah club malam, dan gian tidak terima dengan tuduhan dari ibu kepala sekolah.
“Bu, ibu jangan ngarang deh dari mana ibu tahu kalau ibu saya bekerja di club malam ? ibu itu sama saja dengan teman-teman yang lain suka menuduh sembarangan.”
“Gian kamu bisa bicara dengan sopankan ? Ibu bukan menuduh sembarangan, tapi sudah banyak orang yang melihat ibu kalian bekerja disana.”
“Maafin adik saya bu, kalau misalkan sekolah ini merasa tercemar nama baiknya karena kami, kami siap kalau harus dikeluarkan dari sekolah ini.”
“Ga bisa gitu dong kak !! bu tolong dong ibu jangan mudah percaya dengan omongan orang-orang. Apakah setiap orang yang bekerja di club malam adalah seorang pelacur ? belum tentukan bu..”
“Begini saja, coba kalian tanyakan baik-baik sama ibu kalian apa sebenarnya pekerjaan ibu kalian itu. Sekarang kalian boleh kembali ke kelas.”
“Makasih bu permisi.”
Aku menjadi ragu pada ibu, aku juga sangat kesal pada ibu karena selama ini ibu tak pernah mau jujur tentang pekerjaannya. Gian kelihatan sangat kesal sekali ketika dia tahu bahwa ibu bekerja di club malam.
“Gian ga nyanka kak, kalau ibu itu bekerja di club malam. Gian kecewa sama ibu.”
“Gian kamu gak boleh gitu dong, kamu percayakan sama ibu ? ibu ga mungkin melakukan hal itu.”
“Tapi kak bisa aja kan ibu benar bekerja sebagai pelacur.”
“Gian…. dengerin kakak, kamu tahukan ibu orangnya seperti apa ga mungkinkan ibu rela bekerja seperti itu.”
“Ga tahu kak sekarang Gian ragu sama ibu. Kenapa sih ibu ga pernah cerita sama kita tentang pekerjaannya.”
“Ibu pasti punya alasan kenapa ga cerita sama kita.”
Ketika kami pulang kerumah ibu sedang menyiapkan makan siang. Aku yakin ibu bukan seorang pelacur. Ibu ga mungkin menghianati ayah yang sangat ibu cintai. Tapi entah mengapa ada keraguan dalam hati ku. Semoga saja apa yang dituduhkan orang-orang pada ibu tidak benar. Gian yang sangat kesal pada ibu tiba-tiba marah pada ibu.
“Bu…. apa benar ibu bekerja di club malam ?”
“Kamu itu ada-ada saja Gian, ya ga mungkin dong ibu bekerja di tempat yang seperti itu.”
“Sudahlah bu, ibu ga usah bohong sama aku banyak orang yang suka melihat ibu di club malam.”
“Kamu ga percaya sama ibu ?”
“Bu masalahnya bukan percaya atau tidak, ibu tahu tadi aku dan kak Ajeng dipanggil sama kepala sekolah gara-gara kabar yang menyeba bahwa ibu itu bekerja sebagai PSK, tahu gak bu Gian malu.”
“Gian….”
Ibu menampar Gian dan menangis.
“Kamu tahu kenapa ibu ga pernah menggubris omongan orang-orang diluar sana yang menganggap ibu sebagai PSK, ibu ga peduli sama orang lain. Yang penting buat ibu adalah kepercayaan dari kalian. Kalian percaya sama ibu kalau ibu buak pelacur itu sudah cukup buat ibu, ibu ga peduli sama orang lain.”
“Tapi bu Gian itu malu bu… malu…..”
“Kamu malu punya ibu seperti ini ? kamu tahu tidak dipercaya sama kamu dan kakak kamu itu lebih menyakitkan buat ibu.”
“Kenapa sih ibu ga pernah jujur sama kita ?”
“Gian sudah ya, kamu sekarang ganti baju dulu terus kita makan.”
“Tapi kak…”
“Gian…”
Aku berusaha menenangkan ibu yang menangis. Aku tahu ibu sangat sedih ketika Gian berkata seperti itu. Ibu memilih untuk tidak dipercaya oleh orang lain daripada sama anak-anaknya sendiri. Karena bagi ibu adalah kepercayaan dan kebahagaian anak-anaknya yang paling terpenting dalam hidupnya. Hari ini cukup membuat ku belajar untuk hidup lebih bijak dan dewasa lagi. Permasalahan yang ada dalam keluarga ku membuat ku bisa bersikap lebih dewasa lagi. Dengan tidak tidak meyalahkan ibu ataupun Gian dalam masalah ini.
Ketika ada masalah dalam keluarga aku selalu kangen sama ayah. Ayah selalu bisa menengangkan kami ketika sedang menghadapi masalah. Ayah selalu bisa membuat suasana tidak panas, ayah selalu mengajarkan aku untuk selalu berpikir sebelum melakukan apapun. Ayah selalu bisa bersikap bijaksana dalam menghadapi setiap permasalahan hidupnya. Ayah… aku masih membutuhkan mu disini.
Ketika suasana sudah cukup tenang, secara baik-baik aku menanyakan tentang pekerjaan ibu yang sebenarnya. Aku tahu ibu pasti punya alasan mengapa tidak pernag menceritakan yang sebenarnya tentang pekerjaannya itu. Saat itu aku, Gian dan ibu sedang berkumpul di meja makan, sebagai seorang kakak aku harus bisa bersikap lebih tenang walaupun sebenarnya aku cukup kesal pada ibu.
“Bu… Ajeng boleh tanya sesuatu sama ibu ?”
“Mau tanya apa ?”
“Maaf ya bu, bukannya Ajeng tidak percaya sama ibu tapi Ajeng dan Gian ingin tahu apa pekerjaan ibu sebenarnya.”
“Ibu juga minta maaf sama kalian karena selama ini ibu tidak menceritakan yang sebenarnya.”
“Ajeng ngerti kenapa ibu belum mencerutakan yang sebenarnya, tapi sekarang kami butuh penjelasan dari ibu, pihak sekolah juga ingin memastikan apakah kabar yang beredar itu benar atau tidak.”
“Ibu memang bekerja di club malam, tapi…”
“Tuhkan benar, ibu ini bukan ibu yang baik.”
“Gian, kamu harus dengerin ibu dulu.”
“Ibu bekerja di club malam bukan sebagai pelacur, ibu hanya seorang pelayan saja disana. Memang banyak sekali laki-laki yang meminta ibu untuk melayaninya tapi ibu selalu menolaknya. Ibu selalu berbuat kasar pada orang-orang yang meminta ibu untuk melayani nafsunya itu. Ibu ga mungkin menghianati ayah kalian, ibu ga mungkin menghidupi kalian dengan uang yang haram. Kalau bisa memilih ibu sebenarnya tidak ingin bekerja ditempat seperti itu tapi mencari pekerjaan sekarang itu tidak mudah.”
“Bu… maafin Ajeng ya… Ajeng sempat ragu sama ibu.”
“Justru ibu yang minta maaf sama kalian, ibu sudah tidak berterus terang sama kalian.”
“Gian juga minta maaf bu, Gian udah marah-marah dan ga percaya sama ibu.”
“Ga apa-apa Gian.”
“Sekarang Ajeng akan selalu percaya sama ibu, karena Ajeng tahu ibu ga akan berbuat seperti itu. Ajeng ga akan memperdulikan omongan-omongan orang lain tentang ibu.”
“Makasih ya sekarang kalian sudah percaya lagi sama ibu. Yang terpenting dalam hidup ibu adalah kebahagian dan kepercayaan dari kalian.”
Setelah semuanya jelas bahwa ibu ku bukan seorang pelacur , ibu hanya seorang pelayan club malam saja, semua orang percaya dan tidak menuduh ibu lagi. Pihak sekolahpun sudah percaya dan bahkan kepala sekolah memberikan modal pada ibu untuk berjualan di kantin sekolah dan berhenti dari pekerjaannya itu.
Terima kasih Tuhan Engkau telah memperlihatkan semua kebenarannya. Kini ibu mempunyai banyak waktu untuk selalu ada bersama kami. Sungguh kebahagian yang sangat luar biasa. Benar Tuhan itu tak pernah tidur dan tahu apa yang sebenarnya kita kerjakan. Terima kasih ibu, kau selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kami.
Selesai....
Penulis :  Ninawati Coke 
Penerbit Bang Dens

SHIELA


Cerpen Dewasa Karya LD. Ahmad Karwin

KEPERGIAN SHEILA
Pagi masih terlihat sejuk, burung-burungpun terus bernyanyi dengan riangnya diranting-ranting pohon depan kamarku. Entah mengapa hari ini aku merasa bersemangat sekali. Mungkin karena aku akan bertemu dengan Rendy sepulang sekolah nanti. Setelah beberapa bulan ini aku tidak bertemu dengannya jangankan melihat wajahnya mendengar suaranya saja aku tidak pernah. Mungkin karena Rendy terlalu sibuk dengan urusannya.
Sesampainya di sekolah, Dara dan Shaqila sudah menunggu ku di kelas.

“Hai Sy, gimana nanti. Pasti kamu gak sabar yah?” Tanya Shaqila sedikit ingin tahu.
“Iya nich Sis,aku jadi pingin buru-buru pulang aja.” Jawab Sheila.
“Ya ampun Sheila kitakan baru masuk belum mulai pelajaran lagi.” Sindir Dara dengan menggeleng-geleng kepalanya sambil menepuk bahuku.

Akhirnya bel pulang berbunyi tanda pelajaran kami sudah selesai. Dengan bergegas aku langsung pamit pulang duluan. Aku menunggu di kantin sekolah, aku lihat jam ternyata masih jam setengah satu. Rendy janji menjemputku jam satu nanti disini. Sambil menunggu waktu itu aku memesan segelas es degan. Tak lama kemudian Rendy datang juga meski terlambat 15 menit. Aku lihat wajahnya murung dan sorot matanya menggambarkan kesedihan yang mendalam.

“Hai Sheila apa kabar “Tanya Rendy. “Baik-baik saja Rendy.” Jawab Sheila.
Aku tak banyak berkata-kata aku hanya ingin tahu saja mengapa wajahnya murung.
“Rendy, mengapa kamu kelihatan murung. Kamu punya masalah?” Tanyaku padanya.Aku semakin mengkhawatirkan orang yang jadi pacarku empat tahun ini sejak aku duduk di bangku SMP kelas 3.Aku tahu betul Rendy pasti sedang punya masalah.

Sebelum Rendy menjawab dia sudah mengajakku pergi meninggalkan kantin. Tiba-tiba Rendy berkata, “Kamu ingin tahu kenapa aku selama satu bulan ini tidak menghubungimu atau bahkan menemuimu?”
“Aku tahu kamu harus keluar kota untuk bekerja, mungkin kamu sibuk makanya kamu tidak menelponku.” Jawab Sheila.

“Hanya itu yang kamu tahu? Bukan karena itu Sheila masih banyak yang kamu belum tahu tentang aku Sy. Mungkin kamu terlalu baik untuk aku , kamu selalu berusaha untuk berada dekat dengan aku saat aku merasa kehilangan semangat, saat aku merasa benar-benar tak berarti untuk jadi orang yang kau cinta.” Kata Rendy.
“Jangan katakan kalau kamu tidak mencintai aku lagi Rendy!! Aku tidak ingin mendengarnya.” Jawab Sheila.
“Bukan Sheila.”
“Lalu apa maksud kamu bilang seperti itu?” Tanya Sheila.

“Tidak mungkin aku tidak mencintaimu Sy. Kamu sudah terlalu memenuhi seluruh pikiranku. Selama ini banyak cerita yang kulalui bersamamu, tak pernah sedikitpun kamu menyakiti perasaanku, kamu selalu membuat aku tersenyum bahkan tertawa disaat kesedihan melanda.”Jawab Rendy.
Rendy mengajakku untuk menumpangi perahu berdua dengan makanan dan minuman yang tertata rapi dimejanya ada dua lilin dan satu tangkai bunga mawar dan secarik kertas berwarna biru tertuliskan namaku “SHEILA PERMATA”.

“Mungkin aku tak bisa membahagiakanmu tapi paling tidak izinkan aku memberikan yang terlebih pada diriku untukmu. Maafkan aku atas kata-kata yang tak terwujud, maafkan aku atas kebisuanku selama ini.

Dariku yang Takut Kehilanganmu.
Rendy Satriya.”
Aku seakan-akan telah terlelap dalam mimpi indahku.
“Mimpikah aku?”

“Tidak Sheila kamu tidak bermimpi kamu sedang bersama aku sekarang.” Jawab Rendy.
Hari sudah mulai sore aku mengajak Rendy pulang karena aku takut dimarahi mamaku. Karena aku tadi tidak bilang kalau akan pulang sore. Aku takut mamaku mengkhawatirkan aku.
“Rendy, hari sudah sore ayo pulang aku takut mama marah sama aku.” Ajakku.
“Tenang saja Sy tadi aku sudah izin mama untuk ngajak kamu dan pulang larut.” Jawab Rendy.

“Terlalu banyak yang sudah kamu perbuat untukku Ren tapi sesungguhnya aku mengenalmu. Aku tahu sebelum kamu mengatakannya padaku, yang aku butuh bukan kata-kata manis atau puisi bahkan setumpuk bunga mawar.Karena yang aku butuh hanya kamu dan bersamamu dalam setiap detik yang aku punya. Ada kamu yang menjagaku, ada kamu yang memberi aku semangat.” Kata Sheila.
Enam bulan berlalu akhirnya aku diterima di salah satu Universitas tempat Rendy kuliah dulu. Belum lagi Shaqila dan Dara juga diterima ditempat yang sama. Ini hari pertamaku mengikuti OSPEK. Dan Rendy yang mengantarku ke kampus. Saat aku mengikuti OSPEK semuanya masih berjalan lancar. Aku merasa seluruh badanku remuk kepalaku pusing dan tak tau apa yang terjadi lagi setelah mataku terpejam dan terjatuh. Sadar-sadar aku sudah berada di ruang perawatan kampus.

“Sy, kenapa kamu, kamu belum makan “ Tanya Dara dan Shaqila mengkhawatirkan aku.
“Loh kok kalian boleh masuk kesini?” Tanya Sheila.
“Ia sekarang kita sudah diizinkan pulang oleh kakak senior.” Jawab Dara.
Satu minggu berlalu entah kenapa akhir-akhir ini badanku terasa pegal-pegal belum lagi rasa nyeri ditulangku. Dulu aku juga pernah seperti ini dan sudah diperiksakan kedokter. Aku hanya tidak boleh terlalu lelah saja. Setelah minum obat hilang semua. Tetapi sekarang kok tambah parah yah, sudah dua hari aku tidak masuk kuliah, tentu saja semua jadi khawatir akan keadaanku. Tiap pulang kuliah Dara dan Shaqila selalu menemaniku di rumah belum lagi perhatian Rendy yang membuat aku merasa jadi ratu.

Satu minggu berjalan lancar badanku terasa lebih enak, tulangku pun menjadi lebih bersahabat sehingga aku beranikan diri untuk meminta Rendy untuk jalan-jalan menghirup udara segar. Akhirnya Rendy menyetujuinya.dengan persetujuan mama tentunya. Rendy mengajak Dara dan Shaqila juga pasti seru deh. Rendy menjemputku. Setelah berpamitan kita melaju ke tempat Dara dan Shaqila lalu pergi berempat kesalah satu tempat karoke di Jakarta karena aku yang memintanya. Entah mengapa aku ingin sekali bernyanyi bersama mereka. Penuh canda tawa semuanya riang aku merasa tidak seperti orang sakit.

Rendy selalu tersenyum dan bernyanyi sambil melihat ke arahku sehingga membuat Dara dan Shaqila iri.
“Aduh…… yang berduaan serasa dunia milik berdua.” Sahut Dara agak sedikit mencibir sambil tertawa memandang Siska.
“Dara aku sayang deh jangan pergi dariku!!!” Sahut Shaqila meledekku dan Rendy.

Tiga jam berlalu dan kami menghabiskannya disini. Penuh canda tawa dan kenangan yang indah bersama mereka. Hari ini hari minggu sudah pasti semua libur, kali ini aku meminta Rendy untuk pergi ketempat wisata di Jakarta. Kali ini Dara dan Siska juga ikut. Aku membawa bekal secukupnya dan kamera untuk mengabadikan suasana disana nanti. Entah kenapa aku tidak ingin melewati hari-hariku sendiri dan hanya sendiri. Kami pergi dan disana banyak kejadian yang menyenangkan. Kami berfoto dan selalu bersama banyak sekali foto dan gaya-gaya kami. Keesokan harinya aku ingin pergi ke sebuah villa bareng dengan mereka dan keluargaku. Tetapi kata Rendy aku sudah terlalu lelah bagaimana kalau diundur minggu depan dan kebetulan juga tepat hari ulang tahunku. Dengan terpaksa akupun mengiyakannya.

Keesokan harinya Rendy rutin datang ke rumahku dan bicara dengan kedua orang tuaku. Aku sempat mendengar percakapan mereka yah apa lagi kalau bukan pesta ulang tahunku nanti.
“Bagaimana Nak kamu sudah mencari villa yang tepat buat acara Sheila?” Tanya Mama Sheila.
“Sudah Tante. Tempatnya cocok sekali untuk acara ulang tahun Sheila. Villa milik Paman saya yang ada di Bandung. Bagaimana Om setuju atau tidak? Kalau Om dan Tante tidak setuju dengan villa yang ada di Bandung, saya akan mencarikan lagi villa dekat-dekat Jakarta.” Tanya Rendy kepada orang tuaku.

“Ya sudah tidak apa-apa villa di Bandung. Kebetulan Tante disana juga punya saudara. Iya kan Pah?” Tanya Mama kepada Papa.
“Iya tidak apa-apa yang penting Sheila suka tempatnya dan gembira.” Jawab Papa.
“ Jadi villa sudah ada dan siap untuk dipakai. Nanti saya akan menelpon Paman saya untuk membersihkan villanya” Kata Rendy.

Mama sibuk menelepon saudara-saudara untuk memberitahukan jika ada acara ulang tahunku. Dan agar mereka mau datang ke pesta ulang tahunku. Sedangkan papa dan Rendy sibuk menyiapkan persiapan-persiapan yang sangat dibutuhkan nanti. Rendy bolak-balik ke Bandung untuk memeriksa villa milik pamannya apakah sudah siap. Karena Rendy ingin pestaku nanti bisa meriah dan semuanya gembira dan bahagia terutama aku..

“Sayang, aku ke Bandung dulu ya, aku mau memeriksa apakah villa buat pestamu sudah siap. Aku janji nanti sore aku sudah disini lagi. Aku hanya sebentar.” Pamit Rendy padaku.
“Iya, hati-hati ya. Nanti sore janji disini lagi ya!!” Kata Sheila.
“Iya Sheila.”

Tak lama kemudian Rendy berangkat bersama temannya namanya Tio. Jam dinding menunjukkan pukul 17.00 WIB tetapi Rendy belum juga kembali. Rasa khawatirku mulai nampak. Dia tak segan-segan menelpon Rendy karena dia takut terjadi sesuatu kepada orang yang dia sayang.
“Rendy, sudah jam segini kamu kok belum kembali? Ada apa? Aku khawatir sekali sama kamu. Cepat pulang ya Ren!!” Kata Sheila menunjukkan kalau dia sangat khawatir.

“Iya Sheila. Aku tidak apa-apa kok kamu tenang saja. Ini juga sudah dijalan mau ke Jakarta. Tapi jalannya macet makanya pulangku nanti agak telat gak apa-apa kan?” Jawab Rendy.
“Iya sudah gak apa-apa yang penting kamu baik-baik saja. Hati-hati ya.” Kata Sheila mulai tenang.
Selang beberapa jam Rendy sampai di rumahku. Dia langsung bercakap-cakap dengan kedua orang tuaku.

“Om, Tante villa di Bandung sudah siap. Kita tinggal memakainya saja." Kata Rendy.
“Iya Ren. Terimakasih ya kamu sudah mau boak balik Jakarta-Bandung hanya untuk memeriksa villa yang akan digunakan acara Sheila.” Kata papa.
“Oh iya Om gak apa-apa itu juga buat Sheila. Karena saya sangat mencintainya Om Tante. Sheila sudah tidur ya Tan?” Tanya Rendy.

“Iya tadi dia sudah tidur katanya sudah lelah nunggu kamu pulang.” Jawab Mama.
“ O… Ya sudah tante. saya pamit pulang dulu. Salam buat Sheila tante.” Pinta Rendy sembari meninggalkan tempat duduknya.
“Iya besok pagi Tante sampein ke Sheila.”

Keesokan harinya Dara dan Shaqila datang ke rumah mereka memberikan data teman-teman yang akan diundang. Tidak tahu kenapa aku jadi semakin sedih ternyata banyak sekali orang-orang yang sayang kepadaku. Aku beruntung sekali mereka ada disisiku. Akh…. tubuhku menggigil dan kurasakan dingin aku juga merasakan sakit yang luar biasa ditulangku. Tapi aku tidak mau mereka tahu karena aku tak mau mereka mengkhawatirkan aku. Aku sengaja menyembunyikan sakitku. Oh.. Alangkah berkaca-kaca mataku. Kenapa aku? Ada apa denganku.....??Tiba-tiba saja Dara dan Shaqila masuk kamarku tanpa mengetuk pintu.

“Hai Sheila.,, Ciieee yang mau ulang tahun ngaca mulu nih”. Sahut situkang celetuk Dara.
“Kita ke salon yuuk aku ingin memotong rambutku!” Ajak Sheqila.
“Aku juga mau creambath nich Sheila. Kamu sekalian mempercantik diri buat ulang tahunmu nanti.”
Sepulangnya dari salon memang sich badanku agak rilek. Besok sudah acaranya semua jadi semakin sibuk. Malam ini aku tidur tidak nyenyak serasa ingin sekali tidur bersama orang tuaku. Untung saja Rendy datang ke rumah sambil membawa kue kecil bertuliskan Happy Birthday untukku tepat jam 12 malam.

“Selamat ulang tahun ya Sayang. Semoga lekas lepas dari sakitmu. Apa yang kamu inginkan akan terwujud.” Kata Rendy sambil mengecup keningku.
“Aku gak nyangka kamu akan datang aku kira hanya lewat telepon. Makasih ya Rendy.” Kata Sheila.
“Keesokan paginya baru kamu datang aku ingin ngasih kamu sesuatu yang berbeda apa lagi untuk calon istriku.” Kata Rendy sambil menunjukkan cincin yang Rendy bawa untukku.
“Maukah kamu bertunangan denganku Sheilaku “ Tanya Rendy.

Hanya airmata yang kusematkan dipipiku aku. Aku tak mampu berkata apa-apa.
“Jelas Rendy aku mau.” Kataku Sambil memeluknya.
Rendypun memakaikan cincin dijari manisku. Sesampainya di Villa aku merasa lega entah kenapa aku merasa semua bebanku terlepas hilang tertiup angin.

“Acara sudah mau mulai sayang, semua sudah berkumpul didalam.” Kata Rendy yang tiba-tiba muncul diiringi sebuah kecupan dipipiku dan memelukku.
“Rendy, kamu janji yah apaun yang terjadi nanti dengan aku, kamu tidak boleh menangis.” Pinta Sheila.

“Iya aku janji. Kamu kenapa sich bicara seperti itu Kok ngomongnya kayak mau pergi aja Dah yuuk kita masuk.”

Setelah beberapa jam, akhirnya selesai juga. Aku sungguh lelah sekali tapi aku sangat senang. Yang lain sedang asyik bermain disini hanya ada aku, Rendy, Dara dan Siska. Kami bicara panjang lebar. Kali ini aku yang banyak bicara.
“Aku Cuma mau ngucapin terimakasih sama kalian semua karena kalian sudah jadi yang terbaik, jadi pacar yang setia, jadi teman bahkan saudara. Terimakasih karena sudah membantuku mewujudkan mimpi terakhirku.” Kataku.

Mereka menangis sambil memelukku. Tiba-tiba saja aku tak ingat apa-apa. Yang aku hanya malaikat sudah menjemputku.
“SHEILA!” Semua berteriak,

Semua menangis meratapi kepergian Sheila. Raut wajah kesedihan tampak jelas terlihst diwajah orang-orang yang aku sayangi. Sebelum aku benar-benar telah pergi izinkan aku TUHAN untuk memeluk orang-orang yang aku sayang. Sampai akhirnya akun benar-benar telah pergi ke dunia lain.
Satu tahun kemudian setelah kepergian Sheila, Rendy datang ke makam Sheila dengan membawa kotak kecil yang diikat rapi dengan pita.

“Aku datang dengan membawa hadiah untukmu. Ini foto-foto terakhir kebersamaan kita sebelum kepergianmu satu tahun yang lalu. Aku belum sempat memberi tahumu. Fotonya lucu-lucu apalagi kamu kelihatan sehat. Sampai-sampai aku tak menyangka jika kamu akan meninggalkanku sendirian. Aku gak menyangka kalau kamu terkena kanker tulang. Aku tiba-tiba menghilang selama satu bulan karena aku tidak bsa terima orang yang aku sayangi menderita penyakit separah ini. Aku tau dari mama dan juga dokter yang memeriksa kamu. Maafkan aku jika aku menyianyiakan kamu waktu itu. Makanya aku ingin tebus semua kesalahanku dan aku akan membuatmu bahagia sampai akhirnya kamu telah pergi untuk selamanya. Jika ada hal yang terindah dalam hidupku aku yakin hanya kamu yang terindah, jika aku boleh memutar waktuku lagi aku yakin hanya kamu yang aku pinta kembali. Tenanglah disana dimana kamu tidak akan pernah merasa sakit lagi. Aku akan menjaga kenangan kita.” Kata Rendy.

Selesai...

KENANGAN YANG HILANG

Hujan turun saat aku sampai di Bandara Soekarno Hatta. Aku duduk di kursi tunggu, menunggu Papa menjemputku. Sekitar sejam lebih aku menunggu. Aku juga tampak bosan. Akhirnya kuputuskan untuk berjalan keliling Bandara. Saat akan berdiri, tiba-tiba ada yang memegang pundakku. Aku langsung berbalik badan. Kulihat lelaki seumuran denganku tersenyum ramah kepadaku. “Mbak Vega ya?” tanyanya ramah. Kemudian aku mengangguk menjawab pertanyaan itu. “Saya supirnya Pak Broto, maaf lama menunggu, Jakarta macet, Mbak. Mari saya anter ke mobil” ucapnya lagi. Kemudian lelaki itu berjalan duluan kearah parkiran diikuti denganku.

Sesampainya di rumah, Mama dan Papa menyambutku dengan gembira. Bukannya aku tidak senang, tapi kali ini aku benar-benar capek. Perjalanan Amerika-Jakarta cukup membuatku lelah. Duduk berjam-jam membuatku ingin segera berbaring di kamar. Mama dan Papa mengerti dan segera mengantarku ke kamar tidurku dulu. Kemudian mereka segera pergi dan menyuruhku istirahat penuh. Kulihat kamarku ini tidak berubah. Hanya sprainya saja yang berubah warna. Tiba-tiba, aku ingat lagi wajah lelaki yang mengaku supir Papa itu. Umurnya padahal sama denganku, tapi kenapa dia malah bekerja? Apa dia tidak kuliah? Tapi kenapa? Apa dia tidak punya uang?, aku terus bertanya-tanya dalam hati.

Tiba-tiba saja aku melihat lelaki itu dari dalam kamar. dia sedang ada di halaman samping rumahku. Tawa lelaki itu... mengingatkanku pada seseorang saat kecil dulu. Tapi siapa? Apa mungkin aku saja yang terlalru berlebihan? Kenapa juga aku melihat lelaki itu? Tidak menarik sama sekali! Ucapku dalam hati. Kemudian aku menutup gorden jendela kamarku dan berbaring di kasurku yang empuk. Tiga bulan lagi aku akan kembali ke Amerika. Hemm, waktu itu terasa sangat singkat. Aku masih kangen sekali dengan Indonesia. Aku pun memejamkan mata dan tidur.

Dua bulan berlalu dengan begitu cepat. Aku dan supirku, yang bernama Roni, kini juga semakin dekat. Ternyata Roni ini orang yang sangat asik untuk diajak ngobrol. Dia berilmu pengetahuan yang luas. Bahkan ada yang aku tidak tahu, tapi dia tau. Semakin lama aku mengenalnya, semakin nyaman aku ada disampingnya. Setiap dekat Roni, aku merasa memang sudah kenal dekat dengannya. Sampai akhirnya, aku tahu bahwa aku jatuh cinta pada supirku sendiri. Tapi aku merasa aku tidak salah menyukainya. Karena aku selalu merasa dekat dengannya dari dulu. Jauh sebelum aku di Amerika. Ada apa ini?

Hingga malam itu, Roni pamit pulang kampung karena ibunya sakit keras. Karena bosan di rumah, akhirnya aku meminta orangtuaku mengijinkan aku ikut dengan Roni ke kampungnya. Aku ingin menikmatik pemandangan disana. Karena Roni bilang, di kampungnya masih banyak hamparan sawah. Tadinya Mama tidak mengijinkanku. Dia takut aku kenapa-napa. Tapi, setelah aku bilang Roni akan menjagaku, akhirnya Mama setuju. Aku pun akhirnya ikut Roni ke kampungnya.

, tapi ak

Sekitar jam lima pagi aku sudah sampai dikampungnya Roni. Baru jam lima saja, banyak penduduk yang sudah beraktifitas. Kebanyakan petani sudah mulai turun ke sawah. Benar sekali. Kampung Roni benar-benar indah pemandangannya. Mataku ini disajikan pemandangan alam yang luar biasa. Tiba-tiba aku teringat, sepertinya dulu aku pernah melihat pemandangan seperti ini. Setelah kupikir-pikir, mungkin itu hanya bayanganku saja.

Rumah Roni, sama dengan rumah penduduk lainnya. Tidak kecil dan tidak besar. Saat disuruh menemui ibunya, aku lebih memilih untuk duduk di teras rumahnya. Adik perempuan Roni segera membuatkan minuman untukku.

“Mbak ini siapa?” tanya adik Roni itu. “Saya majikannya Roni”jawabku ramah. Adik Roni hanya berOh kemudian masuk ke dalam rumahnya. Roni bilang hanya seminggu kita disini. Sebenarnya, aku ingin sekali berlama-lama disini tapi, itu tidak mungkin. Roni tidak bisa meninggalkan kuliah dan pekerjaannya. Aku juga tidak mungkin meninggalkan Mama dan Papa. Tujuanku kembali ke Indonesia kan bukan untuk ini. tujuanku untuk oragtuaku. Tapi sekarang, aku malah meninggalkan mereka lagi. Tapi tidak apa-apa, walau begitu aku senang berada di kampung Roni ini.

Setelah beberapa hari disini, aku jadi semakin akrab dengan Roni. Dia mengajakku bertani, mengambil air di sumur, memeras susu sapi dan lain-lain. Aku juga semakin terbiasa dengan pekerjaan itu. Melihat Roni.. aku kembali melihat masa kecilku yang.. aku juga sebenarnya tidak ingat dengan masa kecilku dulu. Tapi sepertinya, aku sudah tidak asing lagi dengan semua ini. Roni, ibunya, kampung ini, kegiatan-kegiatan ini.. benar-benar tidak asing bagiku. Aku sendiri juga bingung dengan apa yang kurasakan. Apa sebenarnya ini? tanyaku dalam hati.

Sekarang adalah hari terakhirku dan Roni ada di kampung ini. malamnya, Roni mengajakku ke suatu tempat. Tempat itu.. juga tidak asing bagiku. Danau dengan berjuta kunang-kunang ini, sangat jarang ditemukan di Jakarta. Malah aku yakin, tidak ada tempat seindah ini di Jakarta. Kemudian Roni membawaku ke sebuah pohon yang besar. Pohonnya terlihat sudah berumur. Disana ada tulisan Roni Dan Vega Forever. Aku terkejut dengan ukiran tulisan itu. Aku tidak pernah mengukir nama itu di pohon. Sama sekali tidak pernah. Tapi, kenapa ada tulisan itu? Namaku dan Roni? Ada apa sebenarnya ini?

Kemudian Roni mengajakku duduk di sebuah batu besar. Roni memulai percakapan.

“Kamu tau kenapa ada tulisan nama kita di pohon itu?”tanyanya sambil menunjuk kearah pohon besar tadi. Aku hanya menggeleng bingung.

“Dulu.. waktu kita kecil, kamu pernah tinggal disini. Pak Broto adalah juragan sawah disini. Sawah yang kamu liat itu.. sebenarnya kebanyakan punya kamu. Saat kamu SMA, kamu dan keluargamu pindah ke Jakarta. Mungkin Pak Broto ingin anak semata wayangnya ini sekolah sebaik mungkin. Makanya dia pndah ke Jakarta” jelas Roni. Aku semakin bingung dengan penjelasan Roni.

“Waktu kita SMP, kita ngukir nama kita di pohon itu. Dan di tempat inilah pertama kita bertemu dan berpisah. Aku yakin, aku mikir kampung ini tidak asing lagi bagi kamu kan? Karena kamu pernah ada disini” sambung Roni. Aku hanya menganga kaget mendengar ucapan Roni.

“Tapi, kenapa aku nggak bisa nginet masa kecil itu? Kampung ini emang nggak asing lagi bagi aku, tapi aku nggak bisa inget tempat ini, Ron” tanyaku bingung pada Roni. Roni tersenyum padaku.

“Waktu kita kelas tiga SMP, sesuatu terjadi sama kamu. Kamu kecelakaan dan dokter bilang, kamu nggak bisa nginget masa yang udah dulu banget. Aku sedih banget, Ga. Karena aku itu kan masa lalu kamu dulu. Apalagi saat aku tau ternyata kamu sekolah di Amerika. Saat itu.. aku bener-bener ngerasa kehilangan kamu. Sampai akhirnya aku ke Jakarta dan kerja di rumah kamu. Disana aku selalu liat foto-foto kecil kamu. Mama kamu juga majang foto saat kita berdua. Kita berpelukan sambil tertawa. Kita bahagia waktu itu” jawab Roni tersenyum bahagia.

Aku mulai ngerti dengan semua ini. roni.. pantes saja aku sudah tidak asing lagi dengannya. Ternyata.. dialah teman baikku sejak kecil. Kemudian aku tertawa. Mengingat betapa culunnya pasti aku saat mengukir tulisan di pohon itu. Kita berdua masih belum mengerti sama sekali apa arti tulisan itu.

“Setelah pindah, aku juga ngerasa ada yang hilang, Ron. Sampe sekarang pun, aku nggak pernah pacaran sama orang lain. Karena aku belum nemuin cinta aku. Tapi... setelah dekat kamu, ternyata aku nyaman. Dan ternyata.. kamu cinta aku, Ron” ucapku malu-malu. Kemudian Roni memelukku. Pertama aku kaget dengan pelukan itu. Tapi, pelukan itu yang selama ini aku nantikan.

Dua bulan lebih, aku berada di Jakarta. Setelah pulang dari kampung, aku menceritakan semuanya pada Mama dan Papa. Mereka berterima kasih pada Roni karena telah mengingat kembali masa yang telah hilang dari ingatanku. Akhirnya mereka bersedia menanggung biaya kuliah Roni dan menyuruh Roni fokus pada kuliahnya saja. Biaya berobat ibuya juga ditanggung denga orangtuaku. Aku dan Roni juga semakin dekat.

Hingga akhirnya, aku harus kembali ke Amerika. Sedih hatiku meninggalkan semuanya termasuk Roni. Sahabat baikku dari kecil itu... aku harus meninggalkannya. Tiba-tiba aku merasa separuh hatiku hilang lagi. Meninggalkan Roni.. bukan ini yang ku mau. Tapi apa dayaku? Meninggalkannya memang sudah harus kulakukan. Aku sendiri yang meminta meneruskan study di Amerika.

Roni dan kedua orangtuaku mengantar aku sampai Bandara Soekarno Hatta tempat pertama kali aku bertemu Roni dulu. Tangisan sudah pasti menghiasi suasana hari itu. Aku juga memeluk Roni. Aku benar-benar tidak ingin berpisah darinya. Tapi.. yasudahlah.

“Nanti kita ketemu lagi kan?” tanyaku pada Roni.

“Pasti! Aku janji sama kamu, aku nggak akan khianati cinta kita berdua” jawab Roni sambil membelai rambutku. Kemudian aku memeluk Roni lagi. Maaf Roni, untuk ingatan lupaku padamu dulu, ucapku dalam hati sambil menitikkan air mata.

Dua tahun di Amerika, aku jadi benar-benar kangen sama Roni. Kira-kira sedang apa dia disana? Akhirnya aku putuskan untuk menulis surat padanya. Berharap dia akan cepat membalas surat kangenku ini padanya.

Cerpen Dewasa Karya LD. Ahmad Karwin

DI BAYAR SHOLAT TUNAI


masjid tempat dibayar sholat tunai
masjid tempat dibayar sholat tunai
“ Rumahmu di mana, Ka?” Tanya Wika.
“ Di daerah timur Kota. Luar pusat kota Patria.” Jawab Laika.
“ Jauh amat! Kamu setiap hari naik sepeda?”
“ Kadang naik sepeda, kadang diantar abi, kadang naik angkot.”
Kedua murid 9H itu mengayuh sepeda mereka bersama. Wika menaiki sepeda mininya yang berwarna pink sedangkan Laika duduk di sadel sepeda jengki hitam. Mereka ke selatan terus dua kilometer lalu belok ke timur beberapa kilometer lagi.
Sengatan matahari di tengh hari menusuk kepala  dan tubuh mereka mengeringkan kerongkongan. Membut haus dan puasa makin tergoda. Untungnya cerpenis itu pakai topi dan syalnya, jadi bisa terlindungi. Seragam panjangnya juga bisa melindungi kulit dari sinar UV yang konon bisa merubah ras dari bule jadi negro. Kalau Laika sih aman-aman saja. Jilbab lebarnya menutupi seluruh tubuh termasuk moncong jilbabnya bisa otomatis jadi topi yang meneduhkan pandangan. Mereka terus mengayuh. Satu demi rumah, yang lain demi pinjam buku.
“ Eh, Ka, mampir ke masjid dulu yuk?”
“ Bukannya tadi sudah sholat zuhur?”
“ Aku kebelet pipis. Mau ke kamar kecil.”
“ Oh, ya udah.”
Mereka mampir ke sebuah masjid di depan.  Masjid itu di utara jalan sebelum perempatan.  Mereka turun di halaman parkir. Laika lekas-lekas masuk mencari kamar kecil.WIka duduk di teras menunggu wakil ketua kelasnya untuk kedua kalinya itu.
Sambil menunggu WIka melihat-lihat sekitar. Dia mengeluarkan buku tulis dan menulis keadaan sekitar untuk latihan deksripsi. Halaman parkir di hadapannya menyempit ke utara. Halaman itu dipaving. Sebelah timurnya tembok putih rumah orang. Halaman parkir itu dipayungi terop beratap seng.
Calon penulis itu terus menulis mencatat gambaran di sekitarnya sampai lupa yang lain. Waktu demi waktu dia habiskan dalam menulis detil-detil masjid. Baru setelah selesai dia sadar sesuatu.
“ Kok Laika lama ya?”
Dia tunggu-tunggu kok muslimah itu belum muncul juga. Sudah lima menit lebih bahkan mulai menyentuh  sepuluh menit. Apa mungkin dia betah di kamar kecil yang biasanya kecil dan bau gitu?
Wika pun memutuskan untuk menyusulnya. Dia berjalan lewat selatan ke belakang masjid.
“ Ka, Laika?” panggilnya.
Dia memasuki tempat wudlu bertegel biru di lantai dan dindingnya. Lima keran berjajar. Dia membelok ke kanan. Di sana ada dua kamar kecil. Pintunya terbuka.
“ Laika!” Wika cepat berbalik.
Wika berlari ke depan. Dia menyeberang teras masuk ke ruang dalam. Nyaris saja dia bertabrakan.
“ Laika, kamu dari mana aja sih? Kok lama amat. Sudah sepuluh menit lo. Masak kamu ketiduran di dalam? Dan kenapa kamu malah ada di dalam sini?”
“ Aku sholat tahiyatul masjid dulu.”
“ Apa itu sholat tahiyatul masjid?”
“ Itu sholat untuk menghormati masjid. Jumlahnya dua rokaat. Dilakukan sebelum duduk.”
“ Kenapa sholat tahiyatul masjid?”
“ Untuk bersyukur dan berterima kasih pada masjid yang udah nyediain kamar kecil. Aku percaya pada asas keseimbangan. Kalo kita sudah dikasih kita harus ngasih balik. Di tempat lain ada yang ke kamar kecil atau kamar mandi harus bayar. Aku gak punya uang.jadi aku bayar pake sholat tahiyatul masjid.”
“ Jadi kamarkecil dibayar sholat nih?” Wika ketawa kecil.
“  Na’am. Di Al-qur’an ada untungnya lo. Coba cari di al-qur’an surat Al-hajj ayat 30 dan 32.”
“  Iya. Iya. Dari mana kamu dapat teori itu?”
“  Tadi di kamar mandi ada tulisan ‘ barangsiapa pakai kamar mandi/ kamar kecil  tapi tidak pernah sholat di sini, sholatlah!’”
“ Oh …”
“ Ya udah. Yuk. Keburu sore.” Ajak Laika.
Mereka berdua meninggalkan masjid iitu melanjutkan perjalanan.

~ Thanks ~

ANTARA KERUDUNG DAN JILBAB


antara kerudung dan jilbab. http://www.islamedia.web.id/2012/10/tau-bedanya-hijab-jilbab-dan-khimar.html
“ Ka, sholat ashar, yuk!” Ajak Laika.
Wika mendongak, tersadar dari bacaannya,” sudah waktunya, ya?”
“ Sudah, tuh.” Laika menunjuk jam di atas pintu kamarnya.
“ Ya sudah. Ayo.” Wika berdiri mengikuti Laika.
Mereka berjalan bersama ke kamar mandi. Laika wudlu duluan baru Wika. Beberapa saat kemudian Wika keluar. Dia kembali ke ruang depan. Laika membeber dua sajadah. dua sajadah itu hampir sejajar. Satu sajadah lebih mundur sedikit.
“ Oh, iya aku lupa! Aku nggak bawa mukena!”
“ Tenang aja! Kamu bisa pakai mukenaku.”
“ La kamu?”
Laika tersenyum. Dia masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Wika menunggu dengan bertanya-tanya. Tak lama kemudian Laika muncul membawa mukena. Dia ganti memakai baju yang panjang. Di bawahnya bertumpuk rok yang menjulur sampai menutupi kaki. kain itu tebal berwarna hijau tebal.
“ Kamu pakai apa itu? Selimut apa daster?” Wika terpana.
“ Ini jilbab.”
Bagai disambar gledek Wika  tak paham,” Jilbab? Jilbab itu yang di kepala kan?”
“ Itu khimar.”
“ Apa?”
“ Yya. Yang baju panjang ini jilbab. Yang kerudung di kepala ini khimar.” Laika menunjuk keduanya.
“ Aku nggak ngerti.”
“ Nanti aja kita bahas setelah sholat. Oke?”
“ Nggak apa-apa kamu sholat pake baju begini? Bukannya harus pake mukena?”
“ Ukhti, syarat sah sholat adalah menutup aurat. Dengan baju begini semua aurat sudah ketutup. Iya kan?”
Wika melihat penampilan Laika. Pakai kerudung lebar sampai ke lengan. Baju lengan panjang berwarna hijau tebal. Rok sampai menutupi kaki. gimana bisa nggak ketutup.
“ Tapi itu punggung tanganmu kelihatan? Yang bukan aurat itu kan Cuma wajah dan telapak tangan?”
“ Ukhti, punggung tangan itu termasuk telapak tangan asal tidak sampai pergelangan tangan.”
“ Masak sih?”
“ Ada ilmunya. Makanya ngajilah!”
Wika menggigit bibir bawahnya. Terserah deh. Ilmunya nggak nutut sampae ke sana. Dia nurut juga. Mereka jadi sholat ashar berjamaah. Laika jadi imam sedangkan Wika jadi makmum. Setelah sholat mereka berdoa lalu membereskan sajadah dan mukena. Wika mengembalikan mukenanya. Laika masuk ke kamar lalu keluar lagi dengan pakaian yang biasa.
“ Sekarang jelasin yang tadi? Kok bisa sih jilbab itu baju kayak tadi kok bukan kerudung yang biasanya? Biasanya malah namanya hijab.”
“ Sebentar! Aku ambil referensinya dulu biar jelas.” Laika ke perpustakaan rumahnya mengambil Al-qur’an, kamus bahasa arab dan buku “sistem pergaulan dalam Islam”. Dia bawakan semua ke ruang tamu yang sekaligus ruang keluarga itu.
“ Paling gampang kamu baca ini.” Laika membuka kitab “sistem pergaulan dalam Islam” bab “ melihat wanita”. Dia membalik-balik sampai menemukan dua ayat al-qur’an, yaitu surat Al-ahzab : 59 dan surat An-nur: 31.

“ Hai nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang yang beriman, hendaklah mereka mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka.” (QS Al-ahzab: 59).

“  Di sini bahasa arabnya ‘jalaabiibihinna’. ‘jalaabiibihinna’ itu bentuk kata kerja dan jamak dari jilbab. Di sini dikatakan jilbab itu untuk menutup seluruh tubuh. Jadi jilbab itu buat nutup seluruh badan termasuk tangan dan kaki. yang bisa nutup sampe segitu cuma baju kurung yang panjang dan besar kayak tadi.” Jelas Laika.
Laika membuka kamus bahasa arabnya. Dia buka label huruf jim mendekati akhir. Di sana tertulis “jalbaba”. Di sebelahnya tertulis artinya: memakai baju kurung.
“ Tapi ini jalbaba, bukan jilbab.”
“ Jalbaba itu kata kerja. Kalau kata bendanya jadi jilbab.”
“ Kok bisa?”
“ Itu ada dalam tata bahasa arab yang namanya tashrif. Anak-anak madrasah biasanya belajar ini.”
Wika tersadar dia selama ini tak pernah belajar agama. Cuma sekolah yang mengajarkan agama, itupun cuma teori.
“ Paham?” Tanya Laika.
Wika mengangguk.
“ Sekarang yang khimar ini. Surat An-nur ayat 31.”

“ Hendaklah mereka menutupkan kerudung ke dada mereka.”

“ Dalam bahasa arabnya, disebut bikhumurihinna. Khumur ini bentuk jamak dari khimar. Jadi jelas kalau kerudung yang dipakai di kepala itu khimar, bukan jilbab.”
“ Ooo…” sederhana ternyata.
“ Perlu dibuktikan di al-qur’an?”
“ Yap!”
Wika membuka Al-qur’an. Untung wudlunya belum batal jadi dia bisa langsung menyentuh dan membukanya. Surat Al- Ahzab ayat 59. ayatnya ternyata pendek. Langsung sama dengan yang di buku. Wika membaca tulisan di tengah. Lalu dia membaca terjemah di pinggir.
“ Bener! Ada!”
“ Iya kan? Al-qur’an nggak mungkin bohong.”
“ Terus yang An-nur ayat 31.”
Wika membalik halaman ke kanan. Dia sampai di sana dan mencari ayat 31. ternyata isinya panjang. Dia bingung dengan huruf-huruf itu. Melihat ke atas, bawah mencari tulisan yang sama dengan di buku sistem itu.
“ Yang mana, Ka?”
“ Yang ini.” Laika menunjukkan letaknya.
“ Oh, iya. Ini.” Wika pun menemukan ayat itu dalam tulisan arabnya. Setelah menemukannya dia baca terjemahnya.

Katakanlah kepada wanita yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.

“ Gimana?” tanya Laika.
“ Ini, Ka. Ada yang aneh.”
“ Yang mana?”
“ Ini.” WIka menunjuk kata terakhir dari penggalan ayat yang ada di buku.” Kenapa di sini menutupkan ke dada? Bukan kepala?”
“ Kerudung itu sudah pasti menutupi kepala, Ka. Cuma yang disampaikan di Al-qur’an itu batasannya kerudung atau khimar itu harus lebar dan besar sampai menutupi dada. Jadi nggak boleh cuma nutupi kepala doing tapi dadanya kelihatan.”
“ Jadi kudung gaul itu nggak boleh dong?”
“ Iya. Nggak boleh. Nggak Cuma kudung gaul, tapi juga krepos dan selendang kayak yang dipake baju kebaya atau yang dipakai ngelayat itu nggak boleh.”
Wika baru tersadar semua model jilbab gaul dan minimalis yang dipakai selama ini salah, padahal sudah banyak yang pake dan orang di mana-mana make kayak gitu. Mereka semua salah?
“ Tragis.” Komentar Wika. Dia mengalihkan pandangan keluar menembus pintu kaca hitam yang transparan. Lurus ke halaman yang menguning oleh senja.
“ Maunya nutupi biar taat pada agama dan jadi wanita yang sholihah tapi jadi salah. Aku emang ngeliatnya nggak matching. Kudungan tapi dadanya keliatan atau kudungan tapi pake baju lengan pendek. Ada juga yang kudungan tapi ketat dan ceweknya gatel. Ada juga cewek jilbaban, eh kudungan tapi transparan. Dia berusaha nyembunyiin rambutnya padahal kudungnya sauprit. Gimana bisa nggak keliatan?”
“ Kamu juga ngerti rupanya?”
“ Makanya aku lebih suka make baju lengan panjang dan rok panjang daripada kudungan tapi lengan pendek atau ketat kayak gitu.”
“ Kalo kamu udah tahu bagus pake baju panjang dan celana panjang, lebih bagus lagi kalo kamu tambahi kudung lebar. Kayak aku tadi.”
Wika menoleh pada Laika. Diam dulu. Mikir-mikir.
“ Jangan sekarang dulu deh!” desahnya pelan.
“ Kenapa?”
“ Aku belum siap.”
“ Kenapa belum siap?”
“ Masih banyak hal yang harus aku pikirin.”
Laika ingin mendesak tapi tak mau memaksa. Biarkan hidayah turun membuka hati blogger itu. Kalau hidayah datang dia akan berubah sendiri. Menjadi muslimah dan mujahidah yang kuat.
Dia berujar pelan,” Ya sudah. Semoga kamu cepat siap dan berjilbab juga berkhimar nutup auratmu seperti muslimah sejati, ukhti.

~ Thanks~

TERLALU DEWASA

“ Hai. Sudah lama nunggu?” sapa Revina.
Revina datang memakai pakaian hitam polos lengan pendek. Warna hitm itu turun sampai rok setengah betis. Ia memakai bedak. Rambutnya belah tengah disisir lurus. Di depan telinga rambut itu membelok ke belakang. Cewek abg itu menyangklong tas hitam. Di kakinya sandal bulu hitam membalut punggung kaki.
Di hadapannya duduk seorang cowok berjaket kulit coklat dan jins. Dia bernama Johan. Johan duduk di kursi putih bersandaran dan berpegangan. Ia menghadap meja lingkaran putih. Di tengah meja ad tinag besi berkilau menjulang menopang payung besar. payung itu terbuka lebr menaungi cowok di bawahnya.
“ Ada apa, Say? Mau jalan bareng?” tanya Revina.
“ Duduklah.” Kta Johan. mukanya kelihatan tidak senang. Revina duduk di sampingnya mencondongkn tubuhnya ke depan.
“ Aku mau ngomong sesuatu sama kamu dan ini tidak bagus. Sebelumnya aku minta maaf dulu.”
“ Apa?”
“ Kita putus ya?”
Revina terpana, lalu tertawa,” ah, kamu pasti bohong. Kamu bercanda kan? Nggak mungkin kita putus. Kita kan lagi nggak ada masalah apa-apa?”
“ Ini serius!” ujar Johan.
Cahaya di muka Revina memudar,”ke,kenapa?”
“ Kau tahu, Rev? Kau itu seperti ibu-ibu. Kau itu terlalu dewasa, nggak kayak abg. Lihat paiakaian kamu, penampilan kamu, tas kamu. Semua nggak abg sama sekali. Aku kalao jalan sama kamu dikira sama kakakku atau tanteku.”
Johan memperhatikan Revina. Cewek itu sedikit lebih tinggi darinya. Cewek itu tak bersuara.
“ Dan lagi. Selama ini kau terlalu serius. Kau terlalu banyak mikir. Aku nggak bisa becand atau galau becanda, becandaanmu garing. Aku jadi nggak tahu ngomongin apa sama kamu. Ngobrolin apa enaknya waktu jalan bareng.
Kau juga terlalu penkut. Kau nggak mau mencoba hal baru. Selalu itu-itu saja. Di rumah, di sekolah, di taman. Nggak pernah mau ke karaoke, disko, klub.”
“ Kupikir kau dulu orangnya asyik diajak ngobrol, ternyata nggak. Aku bener-bener kecewa sama kamu.”
Air mata Revina sudah mengalir dihujat habis-habisan. Ia tak bisa membantah apa-apa lagi karena semua memang benar. Ia pun tak mau membalas menghujat atau marah karena cinta adalah mau mendengarkan walau menyakitkan. Yang penting bersatu.
“ Lalu aku harus gimana?” tanya Revina.
“ Sebaiknya kita putus. Aku harus pergi.” Jawab Johan. ia bangkit dan berjalan menjauh.
“ Johan, jangan pergi! Aku masih pingin sama kamu.”
Johan terus saja berjalan menuju tempat parkir motornya. Ia menaikinya dan mengecil ke cakarwala sampai tak terlihat.
Revina menunduk, menangis di kursi kafe. Ia tutup mukanya meletakkan kepalanya di meja ditutupi lengan kirinya. Tangan kanannya mengambil tisu di tas mengusapinya. Ia cukup lama di sana sampai matahari oleng 2/3 langit barat. Orang-orang tak memperhatikan.
“ Kau harus kembali, Han. Kita harus balikan. Dalam kamusku tak da pacar kedua atau seterusny. Aku nggak mau kehilangan kamu. Kita harus selalu bersama.”
Revina bangkit dari kursi lalu pergi mengambil motornya. Ia sholat ashar di mushola terdekat lalu pergi ke warnet. Di warnet ia mencari cara balikan sama mantan pacar. Ia menemukan sebuah situs remaja dan tip balikan sama mantan.  Tipsnya:
  1. Jangan terlalu mengejar-ngejar.
  2. Jagalah diri untuk meraskan kesendirian dan kerinduan. Ini berguna untuk menambah cinta. Kalau dia beneran cinta dia akan minta balik. Ini berguna untuk menilai kesetiaan cinta.
  3. Jangan gengsi
  4. Ubah diri sendiri menjadi lebih baik.
  5. Perbanyak prestasi

Revina mencatatnya lalu pulang.

“ Kamu kenapa, Na?” tanya Citra Khawarizmi, teman sebangku Revina diikuti Wika dan Silvia. Ia tak percaya apa yang dilihatnya. Teman-teman yang lain juga melongo.
Revina menata rmbutnya berponi memakai topi sport baseball. Rambut belakangnya diikat dengan tali merah. Ia memakai jaket merah berlengan putih. ia memakai tas lingkaran. Ia memakai kalung mario bros. Dan ia memakai softlens warna biru. Semua orang terpana melihat mata biru itu. Tak bisa berkedip.
“ Na, kamu masih waras kan?” tanya Citra berbisik di dalam pelajaran.
“ Tenang aja. Nggak apa-apa kok.”

Bel istirahat berbunyi. Seperti biasa, Wika, Silvia dan Citra ke kantin.
“ Aku ke perpus dulu ya?” sapa Revina.
“ Mau apa? Nggak ada PR kan?” tanya Silvia.
“ Mau baca-baca.”
Teman-temannya makin aneh. Biasanya Revina ikut ke kantin. Dia baca buku pas di rumah. Sekarang malah nggak ke kantin. Mereka memutuskan untuk mengikuti Revina diam-diam. Dan yang mereka liat lebih aneh lagi.
Revina mengambil buku-buku humor. Ia membaca dan ketawa terpingkal-pingkal. Sendirian lagi.
“ Bener. Revina jadi aneh. Kesurupan setan apa ya?” bisik Silvia.
“ Atau kesambet cowok atau jin, wewe, pocong?” tambah Wika.
“ Udah. Nanti biar aku tanyain.” Ujar Citra. Mereka meninggalkan Revina.

Revina mencatat humor-humor pling gokil. Sms paling lucu, unik, kreatif dan orisinil juga ia catat. Lalu ia kirimkan sms ke teman-teman. Sebagian ketawa-ketawa sebagian geleng-geleng. Yang ngirim sodron.

“ Kamu kenapa sih, Na?” tanya Citra nggak tahan lagi.
“ Nggak apa-apa.”
“ Jawab yang bener! Kamu bener-bener berubah. Nggak kayak biasanya. Jadi aneh kayak gini.”
Hati Revina tertusuk. Ia menghentikan ekspresi centilnya lalu berbicara pelan,” Aku sedang berusaha balikan sama Johan. kamu tau kan siapa Johan?”
Citra mengangguk.
“ Dia nggak suka aku yang dewasa. Dia suka cewek yang abg. Jadi aku harus ganti diriku jadi cewek yang dia suka.”
“ Ribet banget. Kenapa nggak langsung aja minta balikan? Kayak Runa gitu.”
“ Kamu udah liat kan apa akibatnya dari cara Runa? Endingnya bakal kayak gitu.”
“ Bisa jadi beda.”
“Nggak. Aku nggak mau ngejar-ngejar kayak Runa. Nanti bisa gagal. Malu-maluin dan jatuhin harga diri aku.  Cewek harus punya harga diri. Jangan jadi cewek murahan. Lagian..”
“ Lagian apa?”
“ Aku malu ketemu dia langsung dan bilang gitu.”
“ Jadi kamu mau berubah terus kayak gini?”
“Apa boleh buat.”
Citra menghela napas,” Caramu ribet.”

“ 2 minggu lagi. Kau kan melihatku berbeda dan kau akan kembali kepadaku.” Ujar Revina menatap foto johan di kamar sepulang sekolah.
Foto Johan itu dijepit di gambar kalender di atas angka-angka. Wajah Johan itu seperti Justin Timberlake. Menurutnya sih. Menurut orang? Tauk! Itu yang membuat cewek ini jatuh hati dan tergila-gila. Tambahan lagi cewek ini memgang prinsip cinta adalah kesetiaan dan pengorbanan.
Revina menyilang angka dua baris di bawah angka kalender hari ini.
“ Sampai saat itu  aku akan berusaha jadi cewek yang berprestasi buat kamu, Han.”
Sambil menunggu Revina melakukan banyak hal. Ia rajin belajar, aktif di PMR, bergaul dengan banyak anak baru. Ia berkunjung ke rumah mereka. Ia menjelajah tempat-tempat baru dan mencoba masuk klub malam, bilyaran dan lain-lain.
Tapi meskipun sudah sampai segitu banyak, tetap tak ada sms atau telpon dari Johan. Johan tidak datang berkunjung atau apa. Dia tidak kelihatan di sekolah. Revina harus menjaga hati agar tidak deg-degan dan berlari menuju kelas Johan. kaki ini harus dipaku agar tidak mencari-cari mantan pujaan hati ini, target operasi ini.
“ Kok belum telpon-telpon juga sih? Ayo dong. Hubungi aku. Minimal ketemu aja.” Pinta Revina.
Malamnya ia sholat tahajud minta diketemuin sama Johan. tapi ia Cuma bisa minta dan berharap. Soal dikabulkan atau tidak itu urusan Alloh. Ia tak bisa ikhtiar mencari karena posisi cewek dalah didatangi bukan mendatangi.
Pas jam istirahat Revina duduk di kantin juga memandangi koridor utara. Kelas Johan di utara. Kalau mau ke kantin pasti lewat koridor itu.
“ Ayo makan, Na.” Ajak Silvia.
“ Iya bentar.”
“ Nunggu itu boleh sambil makan lo.”
“ Bentar.”
“ Bentar lagi masuk.”
Revina melihat jam di atas pintu perpustakaan yang berada di sebelah barat kantin pas. Istilahnya di samping. Tinggal lima menit. Ya sudah makan deh.
“ Nah, gitu dong. Makan bareng sama kita-kita. Nungguin apa sih?” sorak Silvi senang melihat Silvia beli roti goreng juga.
Mereka makan bersama. Silvia mendesah. Ya sudah nggak papa deh nggak terkabul. Mungkin balasannya dia akan terhindar dai bencana atau kelak di balas di akhirat.
Berikutnya pelajaran berlnjut sampai siang. Revina cemberut aja. Malas ngelakuin apa-apa. Liat papan isinya rumus nggak jelas. Liat buku, keliatan deretan bosenin. Sampai pulang sekolah ia mengantuk-ngantuk. Angguk-angguk. Geleng-geleng. Nunduk-nunduk. Iyuk-iyuk.
Waktu pulang anak-anak berhamburan keluar. Wika, Silvi dan Citra juga sudah pergi duluan. Tanpa semangat. Revina pulang belakangan itu pulang belakangan. Ia  memanggul tas dengan gontai. Ia menyeret-nyeret langkah keluar kelas. Di pintu ia dicegat.
“ Aku sudah tahu semuanya, Na.”
“ Johan? kamu kembali?” Revina hendak memeluk Johan, tapi Johan mundur. Menghindar.
Johan duduk di bangku marmer. Revina duduk di sampingnya.
“ Kamu udah berubah.”
Revina menutup mulut agar tidak bilang,”semua demi kamu.”
“ Kamu sekarang berbeda. Kamu pake jaket, topi, ikat rambut. Waktu keluar kamu juga pake jins.”
“ Terus?” tanya Revina. Hatinya harus menahan dua kata: mau balikan?
“ Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
“ Apa?” dada Revina mengebu-gebu mengharap kata: ayo balikan.
“ Kasihan.”
“Ha?”
“ Kamu bilang apa tadi?”
“ Kasihan. Kamu berubah sebanyak ini demi aku.”
“ Siapa bilang? Enak aja. Jangan sok tahu ya?”
“ Teman-temanmu yang bilang. Dari Citra, Silvia dan Wika. Mereka semua bilang kamu berubah demi aku.”
“ Kok mereka bilang sih?”  protes Revina.
“ Malah bagus. Makanya aku tahu kamu bener-bener berusaha buat aku.”
“ Jadi?”
“ Sori. tetep nggak bisa?”
“ Kok nggak bisa? Maumu apa sih? Aku jadi dewasa salah jadi abg salah. Apa aku harus jadi anak kecil? Atau nenek-nenek sekalian?” akhirnya semua terbongkar. Tak tahan lagi dipermainkan jadi serba salah begini.
“ Ini demi keselamatanmu. Masa depanmu.”
“Keselamatanku? Masa depanku? Apa maksudnya?”
Johan mendekat ke telinga kiri Revina berbisik,” Aku udah nggak jaka.”
“ Apa?”
“ Ya. Aku sudah selingkuh sama cewek lain dan sudah ‘main’.” Aku Johan.
“ Kok kamu gitu sih? Tau nggak sih kau aku sayang sekali ama kau. Kau malah begini.” Revina memukuli Johan.
“ Makanya aku putusin kamu. Biar kamu slamet. Biar kamu nggak kena nafsuku. Aku lihat kamu itu terlalu baik. Terlalu dewasa, terlalu cerdas dan baik buat jadi korbanku. Makanya aku jauhin kamu. Begitu caraku nunjukin rasa sayangku sama kamu.”
“Oh..”
“ Jadi sekarang kita temenan aja ya?” tawar Johan.
“ Oke deh…”
Mereka berjalan bersama pulang dari sekolh tanpa pegangan tangan.

~ Thanks ~